SAE Indonesia - Perguruan Tinggi & Pelatihan Media Kreatif

Blog

Pitching untuk Produser (Bagian II)

Posted by:

Di artikel sebelumnya Ryoichi Hutomo sudah menjelaskan tentang apa sebenarnya pitching itu dan bagaimana membuat konsep pitching yang baik. Setelah melakukan pitching konsep, kemudian berlanjut dengan pitching budget. Budget yang diajukan kepada client itu kemungkinan besar akan ditawar oleh mereka. Sementara itu, PH harus bisa membayangkan bagian mana dari konsep yang perlu dikurangi, dan bagian mana yang perlu ditambahkan. Dan menurut Ryoichi, tugas produser lah untuk mengarahkan. “Misalnya dari specnya kita pakai alat yang seperti ini atau seperti itu, atau dari lokasi juga diakali,” ujar Ryoichi. PH tidak bisa meminta penambahan konsep (yang berarti penambahan budget) kecuali kalau client yang meminta.

Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan bekerja dengan client. Jika tidak melibatkan agency, PH bisa langsung memberi ide kepada client yang biasanya tidak mengetahui harus memproduksi campaign seperti apa. “Karena kalau dari agency kan punya kreatif sendiri dan punya ide sendiri juga, sehingga lebih banyak bersinggung,” kata Ryoichi. Namun kalau tidak melibatkan agency, tidak ada penghubung yang menyaring kemauan client. Maka untuk bisa ‘meraba’ kemauan client itu, melibatkan atau tidak melibatkan agency, PH harus riset terlebih dahulu iklan brand itu sebelum-sebelumnya seperti apa dan sudah sampai sejauh mana. “Kita bisa meyakinkan brand dengan pengetahuan kita terhadap brand itu sendiri,” ujar Ryoichi.

Ketika akan pitching dengan Client, Ryoichi punya trik tersendiri. Setiap brand itu mempunyai color grade lines, dan Ryoichi pernah bekerja dengan Telkomsel, yang mempunya color grade line merah. Warna dasar merah inilah yang ‘dijual’ ke konsumen. “Aku kadang-kadang kalau meeting dengan Telkomsel, pake baju merah. Jadi kita seakan-akan sudah masuk ke brand mereka juga,” kata dia. Ryoichi berpesan jika datang ke client atau agency tidak usah beramai-ramai, maksimal 3 orang saja dan yang penting sudah menguasai pitchdeck atau materi. Kemampuan menguasai materi ini sangat penting untuk ‘mengunci’ ide-ide yang sudah disetujui oleh pihak-pihak yang terlibat ketika meeting, sehingga mereka tidak bisa mengubahnya lagi. Kecuali kalau ide tambahan itu tidak melenceng dari konsep dan PH masih mempunyai banyak waktu untuk mengerjakannya.

Sebagai pengajar di SAE Indonesia, Ryoichi selalu menekankan pada mahasiswanya untuk disiplin di dalam set. “Harus tau batasan-batasan crew roles itu bagaimana dan attitude di dalam set itu bagaimana. Harus tepat waktu datang ke set dan kurangi bercanda yang tidak penting agar tidak buang waktu,” kata Ryoichi. Sebab PH itu tidak bekerja sendirian saja, tapi melibatkan banyak orang yang pasti tidak akan senang kalau syuting molor sampai malam atau pagi.

0

About the Author:

Content Writer SAE Indonesia
  Pos Berhubungan
  • No related posts found.

Add a Comment


× Whatsapp