SAE Indonesia - Perguruan Tinggi & Pelatihan Media Kreatif

Blog

Problema Pemilahan dan Pengolahan Sampah di Indonesia (Bagian 2)

Posted by:

Kesadaran Masyarakat Atas Pengelolaan & Pemilahan Sampah

Manusia sudah pasti akan menghasilkan sampah setiap hari. Jika tidak dikelola dan dipilah dengan baik dan benar, sampah-sampah yang tertimbun di TPA itu sangat berpotensi menyebarkan penyakit dan merusak lingkungan.  Sampai tahun 2020, persentase masyarakat memilah sampah masih berkisar 11-13%, berarti sebagian besar masyarakat masih belum memahami betapa krusialnya memilah sampah itu.

Media berperan penting dalam mengedukasi masyarakat soal sampah ini. Tapi sayangnya, menurut pengalaman jurnalis Andini Effendi, media arus utama hanya mengambil isu sampah ini sebagai informasi, bukan sebagai laporan mendalam. Kalaupun dibuat laporan mendalam, biasanya tidak berkelanjutan. Padahal isu ini sudah mendasar dan relevan untuk semua orang. “Karena kalau kita ngomongin mainstream media, semuanya segmented, tidak bisa targeted,” kata Andini.

Media sosial atau media digital justru bisa menghasilkan dampak yang efektif. Kalau di media arus utama, yang menentukan suatu berita itu akan tayang atau tidak adalah redaksi. Redaksi, yang terdiri dari beberapa orang, mungkin tidak melihat isu pengolahan dan pemilahan sampah itu penting. Andini tidak menyalahkan redaksi; memang semuanya harus dimulai dari diri sendiri dulu, apakah kita pribadi sudah tergerak untuk memilah sampah atau belum. Jika seorang jurnalis sudah aware terhadap isu ini dan menerapkan perilaku memilah sampah setiap hari dengan disiplin, maka ia sudah memiliki dasar sikap yang kuat untuk mempengaruhi redaksi.

Untuk membingkai isu lingkungan agar menarik, saran Andini, isu itu jangan cuma dilihat sebagai isu lingkungan an sich, tapi harus dilihat sebagai livelihood issue. Misalkan angle (fokus liputan) itu akan berhubungan diri kita dan orang-orang terdekat kita, baru bisa dibawa ke meja redaksi. Yang berhubungan dengan diri kita dan orang-orang lain itu misalnya isu sampah (lingkungan) erat kaitannya dengan isu kesehatan. Misalnya usul liputan tentang kasus penyakit diare yang merebak di kawasan dekat TPA, hal itu bisa terjadi dimanapun selama terdapat timbunan sampah yang tidak terurus, barulah redaksi mungkin akan mempertimbangkannya. “Manusia itu kan makhluk paling egois ya, ya udah kita langsung aja ngomong soal manusianya ya; what’s in it for them? Itu menurutku akan jauh lebih bisa dibahas dibandingkan kita ngomongin lingkungannya saja.”

Andini berharap media bisa meliput lebih dalam dan tajam mengenai isu pengelolaan dan pemilahan sampah. Perlu perspektif baru untuk masyarakat kalau sampah itu bukan sekedar sampah, tapi juga adalah komoditas. Ada circular economy yang bisa dijalankan jika kita bisa mengelola sampah dengan baik dan benar.

 

Waste4Change dan Misi Pengelolaan Sampah

DKI Jakarta menghasilkan 175.000 ton sampah setiap harinya. Sekedar informasi, 7000-8000 ton per hari itu kalau dikumpulkan selama 2 hari akan sebesar Candi Borobudur, bisa dibayangkan jadi sebesar apa tumpukan sampah kalau melebihi jumlah itu?

81% masyarakat Indonesia itu tidak memilah sampah. Padahal di dalam Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Pemerintah Daerah sudah tertera bahwa masyarakat Indonesia WAJIB memilah sampahnya. Yang paling menyedihkan adalah para ujung tombak medan kebersihan ini: petugas kebersihan dan pemulung. Tingkat kesejahteraan mereka berada di bawah ambang batas dan itu sangat memprihatinkan. “Urusan sampah di Indonesia ini sudah menzalimi lingkungan, menzalimi pula rekan-rekan pemulung dan petugas kebersihan,” ujar Managing Director Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano, atau biasa dipanggil Sano.

Waste4Change adalah perusahaan sosial yang didirikan pada tahun 2014 dengan misi memberikan layanan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab untuk Indonesia bebas sampah. Berdiri sejak 2014, Waste4Change ingin lebih bisa ekspansif dalam hal bisnis sampah.

Waste4Change sudah melakukan kajian: Dari 430 responden di Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2019, menunjukkan 49,2 persen masyarakat sudah memilah sampah. Jadi hanya sekitar 50,8 persen responden yang tidak memilah sampah. Artinya, kampanye soal pemilahan sampah yang sudah diangkat sejak 2014 ini membawa dampak positif. Tingkat masyarakat  memilah sampah itu ternyata meningkat. Akan lebih baik jika Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan riset serupa tahun 2021 ini.

Masalah sampah sekarang itu adalah di tata kelola (governance), bukan masalah teknologi. Teknologi pengelolaan sampah sudah ada dan tinggal dipilih saja mau memakai yang mana.  Masalah yang terbesar adalah di regulasi dan kebijakan yang harus ditegakkan; di kemitraan; dan yang paling penting adalah di pembiayaan. “Masalah persampahan ini ibarat jam tangan kita; hilang satu komponen maka tidak akan jalan jam kita. Harus didukung dengan regulasi, kemitraan, dan pembiayaan agar ‘jam’ kita berjalan dengan baik,” kata Sano.

Di dalam semua negara yang berhasil mengelola sampah, titik baliknya adalah penegakan hukum. Masyarakat harus disadarkan dengan edukasi dan sosialisasi, dan juga diingatkan dengan penegakan hukum agar program  pemilahan sampah ini berhasil.

Sudah banyak peraturan yang mengatur soal pemilahan sampah. Tapi tidak ada wasit yang mengawasi pelaksanaan peraturan pemilahan sampah ini  di lapangan. Tidak ada konsekuensi langsung terhadap orang-orang yang membuang sampah sembarangan; mereka tidak punya rasa bersalah dan merasa tidak berdosa jika membuang sampah sembarangan. Salah satu cara Sano untuk mengubah perilaku ini  adalah ia mengajak elemen masyarakat untuk proaktif; foto, video, dan laporkan ke pemerintah agar menjadi viral. Supaya yang tidak benar bisa diingatkan dan yang benar juga perlu diviralkan supaya bisa menginspirasi.

Jika kita mengetik sampah, plastik, atau kompos di Google, grafiknya menaik terus. Itu adalah bukti kepedulian masyarakat terhadap isu ini. “Maka kita tidak boleh lelah untuk terus mensosialisasikan dan mengkomunikasikan soal pemilahan dan pengelolaan sampah ini. Dan jika dibarengi dengan penegakan hukum, maka akan ada sense of urgency; dimana orang  akan dipaksa untuk betul-betul mengurus sampah dengan baik. “

Generasi milenial dan generasi Z sangat melek teknologi dan media sosial. Maka Waste4Change, untuk kelancaran kampanye-kampanyenya, berinvestasi besar pada situs resmi dan media-media sosialnya. Untuk itu mereka harus kelola secara profesional, karena ini adalah channel komunikasi  untuk memberitahukan sesuatu kepada publik dan mendorong kerjasama dan kolaborasi.

Sebagai pegiat pengelolaan sampah, tentunya daur ulang adalah salah satu rumus wajib bagi Waste4Change. Karena kapasitas daur ulang sampah anorganik itu besar sekali, termaasuk daur ulang plastik dan kertas. Tapi para pegiat daur ulang itu banyak juga mengisi kapasitas daur ulang melalui impor. “Sampah-sampah daur ulang ini harusnya masuk ke industri daur ulang Indonesia dan mendorong ekonomi lokal, daripada uangnya untuk membeli sampah dari luar negeri. Ini harus kita ubah sistemnya.”

SAE Indonesia telah bekerjasama dengan Waste4Change sejak September 2019. Per Januari-Oktober 2020, sampah yang berhasil dipilah sebesar 550 kg. Sampah-sampah yang dikumpulkan dari SAE Indonesia diolah menjadi kompos (2%), didistribusikan ke industri daur ulang menjadi produk baru (37%) dan digunakan sebagai bahan bakar untuk pembuatan semen dengan teknologi Refuse-derived Fuel (61%).

 

0

About the Author:

Content Writer SAE Indonesia
  Pos Berhubungan
  • No related posts found.

Add a Comment


× Whatsapp