SAE Indonesia - Perguruan Tinggi & Pelatihan Media Kreatif

Blog

Review Virtual Open Day 20 Februari 2021

Posted by:

Talkshow Film: Making Movies During Pandemic

 

 

Nadina Habsjah (produser di BASE Entertainment)

 

Ali Munandar (Head of Film Department SAE Indonesia dan moderator)

 

Selama pandemi COVID 19, BASE Entertainment sudah memproduksi 2 film: Quarantine Tales dan Akhirat: A Love Story.

BASE Entertainment adalah studio film yang berbasis di Jakarta yang berfokus pada sisi development sebuah film. Yang mencakup development itu antara lain: scriptwriting, planning, promotion & marketing, estetika, dll.

Selama pandemi, tentu saja ada perubahan pola kerja produksi film. Misalnya harus menyiasati tambahan budget untuk protokol kesehatan selama proses syuting; karena cast dan crew harus senantiasa dalam keadaan sehat dan terlindungi. Jam kerja juga harus diperketat. Tantangannya adalah menyeimbangkan antara penambahan ongkos produksi dan jam kerja yang dikurangi.

Produser juga harus menyiapkan contingency plan atau rencana cadangan terhadap lokasi-lokasi syuting. Karena  suka tidak suka, lokasi-lokasi ini akan terpengaruh oleh peraturan pembatasan kegiatan dari pemerintah selama masa pandemi. Jadi, jika harus mengubah lokasi syuting, produser sudah siap karena sudah punya rencana cadangan.

BASE Entertainment pun sering mengadakan rapat virtual untuk membahas cerita film, reading dan preparation. Jika harus bertemu secara fisik, para crew diharuskan untuk melakukan tes rapid antigen terlebih dahulu.Saran dari seorang dokter untuk para filmmaker adalah membentuk ‘cluster’ tersendiri. Artinya selama proses syuting, harus ada perjanjan atau kontrak untuk cast dan crew agar bersedia untuk bersama-sama tinggal di suatu tempat sampai tenggat waktu tertentu. BASE Entertainment sudah memasukkan klausul itu ke dalam kontrak yang mereka buat.

Masih banyak lagi tentang produksi film di masa pandemi, yuk tonton langsung video nya!

 

 

Talkshow Animasi: Starting your own Animation/VFX Studio

 

Stefanus Binawan (Co-Founder UratNadi Studio)

 

Aditya Prabas (Head of Animation Department SAE Indonesia dan moderator)

 

Di benak banyak orang animasi = kartun. Padahal ada satu cabang dari animasi di luar ‘pakem’ kartun itu, yaitu efek visual atau VFX. Kuliah animasi pun juga sudah ada kurikulum VFX untuk pembuatan film, tidak hanya menggambar frame by frame untuk film animasi.

Stefanus menjelaskan ada 4 poin yang membuat VFX sebagai media yang efektif dalam pembuatan film atau iklan. 4 poin tersebut adalah: Impractical, Safety, Budget, Convincing.

Stefanus dan Audi Satrio mendirikan studio UratNadi 2 tahun lalu. Tujuannya adalah agar para director yang memberikan project bisa berdiskusi dan berkonsultasi bersama. Sebab dengan memiliki studio sendiri, animator akan mempunyai nilai tambah di hadapan director daripada hanya bekerja sebagai freelance. Di samping itu, dengan memiliki studio sendiri maka bisa turut meningkatkan kualitas VFX di Indonesia.

Sebelum mendirikan studio sendiri, Stefanus menyarankan agar para animator, khususnya yang fresh graduate, agar menyelami industri terlebih dahulu. Perlu mengetahui seluk beluk industri untuk mengenal medan kerja dan workflow, sebab, bagi fresh graduate, teori yang dipelajari di kampus bisa agak berbeda dengan yang terjadi di industri. Maka itu harus akrab dengan tingkah laku klien, selera, klien, proses formal, dll.

Wah, seru ni talkshow animasi. Tonton langsung yuk video nya!

0

About the Author:

Content Writer SAE Indonesia
  Pos Berhubungan
  • No related posts found.

Add a Comment


× Whatsapp