Blog

Sinergi Sutradara dan Aktor

Posted by:

Putri Ayudya sudah mencintai dunia akting sejak kecil. Aktris yang pernah mendapat nominasi Piala Maya 2015 untuk film Kafir: Bersekutu dengan Setan dan Piala Citra 2018 untuk kategori aktris pendatang baru terpilih untuk film Guru Bangsa Tjokroaminoto ini berbagi pengalamannya selama menjalani dunia akting dan bagaimana seharusnya hubungan antara aktor dan sutradara.

 

Ayudya mulai mendalami akting secara serius sejak mahasiswa. Ia memilih bidang akting dengan konsekuen, siap dengan segala resikonya, termasuk membagi waktu antara kuliah dan aktivitasnya di panggung teater. Pertama kali mulai merambah ke dunia film adalah saat ia ditemui oleh casting crew-nya Garin Nugroho, yang waktu itu sedang membuat film sejarah dan butuh wajah klasik seperti wajah Ayudya. “Ternyata asik, ada ruang lain selain teater yang bisa dijajaki,” ujar Ayudya pada Live Instagram SAE Indonesia (30/4).

 

Masyarakat beranggapan bahwa berakting itu berarti berpura-pura menjadi orang lain. Ayudya tidak setuju dengan itu. Karena menurut dia, berpura-pura itu adalah to be something that you are not, sedangkan akting adalah to be someone that you are not. Ada perbedaan esensial diantara dua frasa itu. “Berpura-pura selalu identik dengan tidak sebenar-benarnya terjadi, tapi kan pada saat akting; itu terjadi. Jadi menurutku ada definisi yang berlawanan kalau akting itu dibilang berpura-pura,” kata Ayudya. Ada juga anggapan yang tidak tepat bahwa kerja aktor itu enak; cuma datang ke lokasi syuting, duduk, baca script, dan kemudian mendapat bayaran paling besar diantara kru lainnya. Padahal, kata Ayudya, kerja aktor tidak semudah itu. Ada serangkaian proses yang harus ditempuh ketika berakting. Seorang aktor butuh waktu dan tahapannya sendiri-sendiri untuk mendalami peran yang akan dimainkan, terutama untuk menjadi seperti yang diharapkan di layar.

 

Riri Riza pernah mengatakan bahwa seorang aktor yang berperan di film itu berbicara sendiri. Lain dengan panggung teater dimana masing-masing aktor, walaupun bermonolog, tetap berbicara langsung kepada penonton. Dari segi penyutradaraan pun berbeda. Ayudya beruntung karena filmnya (Guru Bangsa Tjokroaminoto) disutradarai oleh Garin Nugroho yang kebetulan juga aktif di teater dan cabang-cabang seni lainnya. “Sehingga aku punya jejak directing panggung yang kurasakan juga di film, jadi tidak terlalu kaget,” kata Ayudya. Namun sebelum itu, pada tahun 2012, ia bermain dalam FTV edukasi (Pesan dari Samudra) yang disutradarai Riri Riza. Menurut Ayudya, gaya penyutradaraan Riri dan Garin sangat berbeda, benar-benar dikocok emosi dan pemahaman tentang seni peran. Sehingga aktor-aktor yang ditempa seperti itu menjadi aktor yang siap saji, bukan cepat saji. “Secara personal, aktor-aktor dengan kualitas itu sudah sangat siap dikasih tantangan apapun.”

 

Selain sebagai aktor, Ayudya juga mengajar seni peran di SAE Indonesia. Ia menyadari betul sifat personal dari kelas yang diampunya. Ali Munandar, Head of Department (HOD) program Film SAE Indonesia, mengatakan bahwa yang dikehendaki dari kelas seni peran ini adalah teman-teman bisa mengerti cara berkomunikasi dengan aktor. Ayudya menangkap maksud arahan itu dan melengkapinya dengan istilah ‘put yourself in somebody’s shoes’ . “Makanya di kelas aku mengajak mahasiswa-mahasiswa menjadi aktor untuk sementara waktu. Untuk melihat dan merasakan sendiri bagaimana sesungguhnya akting itu dan mendapatkan referensi dari orang lain,” kata dia.

Supaya efektif, Ayudya mengadakan sesi kelas berisi 3 mahasiswa yang akan berperan menjadi sutradara, aktor, dan penonton. Peran itu juga nanti diputar. Tujuannya adalah supaya mahasiswa memahami dan mengerti peran itu seperti apa dan jangan pernah takut untuk berlatih akting. Ayudya menggaris bawahi yang sebenarnya kita lakukan di kehidupan sehari-hari ini adalah juga berakting. Sehingga, kalau kita berkecimpung dalam dunia akting, jika sudah memahami pesan dan referensinya, kita bisa melakukan mimesis atau peniruan. Misalnya saat kita makan. Masing-masing dari kita, tanpa disadari, pasti memiliki ekspresi tertentu ketika sedang makan dan pasti ada juga sirat ekspresi ketika merasakan rasa makanan itu. Itulah kemampuan dasar yang bisa dipelajari oleh setiap aktor. “Semua orang bisa berakting, tapi perbedaannya terletak pada taraf beraktingnya. Harus punya awareness atas apa yang teman-teman lakukan di ranah seni peran.”

 

Pengalaman akting juga dapat membantu sutradara atau penulis skenario untuk memahami karakter-karakter yang mereka tuju. Sehingga sutradara memiliki kepekaan untuk mengetahui jika seorang aktor sedang mendalami peran. Apakah pada saat-saat krusial seperti itu aktor bisa ‘diganggu’ atau tidak dan di bagian mana sutradara bisa mengguncang keyakinan aktor untuk memasukkan karakter-karakter yang diharapkan sutradara. Dan seberapa besar ruang yang bisa dimasuki oleh sutradara, sehingga tidak memperlakukan aktor seperti robot. Untuk menjembatani komunikasi antara sutradara dan aktor diperlukan KEPERCAYAAN. “Kepercayaan itu diperoleh, bukan muncul begitu saja. Sutradara harus tahu pesan (di film) yang ingin disampaikan itu seperti apa,” kata Ayudya.

 

Seorang sutradara harus menjelaskan sesederhana mungkin suasana apa yang diharapkan dari suatu adegan. Misalnya adegan menangis, aktor tidak bisa hanya disuruh menangis tanpa latar yang jelas kenapa ia harus menangis. Jadi pesan harus jelas, tujuan adegan jelas, dan aktor mengetahui suatu adegan akan mengarah kemana. Yang juga penting adalah membangun suasana kekeluargaan dengan semua yang terlibat dalam pembuatan film, karena bagaimanapun yang ingin dicapai adalah karya yang baik dan produksi yang bermanfaat untuk masyarakat. Hal itu tidak mungkin terwujud jika tidak ada chemistry diantara para pemain dan kru.

 

Menjadi filmmaker pada dasarnya adalah being true to yourself. Kalau kita belum membuka diri sendiri, film yang kita buat tidak akan menjadi sebuah karya yang dapat diapresiasi oleh banyak orang. Dan menjadi aktor adalah menjadi media atau wadah penyampai pesan; menggunakan seluruh kemampuan untuk menyampaikan pesan dari cerita kepada penonton. Sedangkan menjadi sutradara ibarat menjadi nakhoda. Untuk mereka yang ingin menjadi sutradara tapi tidak atau belum pernah belajar teknik penyutradaraan, tidak perlu kuatir, karena banyak sutradara yang tidak memiliki teori atau pengalaman menyutradari sebelumnya. “Ada sutradara yang berasal dari editor, yang ini biasanya shot-nya efektif. Ada juga sutradara yang sebelumnya dari bagian art, penulis, aktor. Jadi kalau kamu punya sense of leadership, just go for it,” ujar Ayudya. Selain sense of leadership, seorang sutradara harus memiliki visi dan tidak ‘banci tampil’. Banci tampil disini artinya tidak menonjolkan diri secara berlebihan di layar, tetap harus memberikan porsi besar untuk para pemain.

 

(Sumber foto: Tribunnews)

0

About the Author:

Content Writer SAE Indonesia
  Pos Berhubungan
  • No related posts found.

Add a Comment


× Live Chat