SAE Indonesia - Perguruan Tinggi & Pelatihan Media Kreatif

Blog

Tama, Hindia dan Lomba Sihir

Posted by:

Wisnu Ikhsantama Wicaksana, atau yang biasa dipanggil Tama adalah lulusan Audio SAE Indonesia tahun 2015. Sedari SMA, ia sudah berminat pada dunia audio engineering dan music production. Bahkan saat SMP pun kecintaannya pada kedua dunia itu sudah tumbuh; ia sering menyambangi sebuah studio musik dan diajari oleh operator studio itu bagaimana cara mengoperasikan recording tools. Selama 3 tahun masa SMA itu, minatnya menjadi semakin terasah. Suatu hari, saat sedang mengunjungi Jakarta Audio Professional Expo (JAPEX) di PRJ tahun 2011, ia langsung mendaftar kuliah di booth SAE Indonesia. Keputusannya ini tidak datang begitu saja dari langit; ia sudah mengetahui SAE –yang terkenal dengan program Audio – saat ia masih duduk di kelas 1 SMA.

 

Wisnu Ikhsantama Wicaksana

 

SAE adalah kampus vokasi yang program-program kuliahnya menunjang mahasiswa pada penguasaan keahlian; jadi sejak semester-semester awal, mahasiswa/mahasiswi sudah bisa belajar bekerja di industri. Saat semester 2 atau 3, Tama menangani proses rekaman Barasuara. Menurut Tama, saat itu hasil rekaman yang dikerjakannya belum maksimal. Ia masih berpikir kekurangan-kekurangan dalam rekaman masih bisa diperbaiki saat proses mixing, padahal proses rekaman awal itu juga sangat penting. Maka, ia belajar lagi bagaimana merekam yang benar, dan sebagainya. Bahkan ia mengulang kelas Mastering atas kemauannya sendiri.

Saat semester 5 ia mengerjakan rekaman salah satu single .Feast di studio 1 SAE Indonesia. Dari saat itu hingga lulus kuliah, ia kerap membantu beberapa project sang vokalis .Feast, Baskara Putra, atau lebih terkenal dengan moniker Hindia. Baskara mulai mengibarkan nama Hindia pada 2019 dan memantapkan dirinya sebagai solois hingga saat ini. Sebelum dan sampai terbentuknya Hindia, Tama sering diajak Baskara sebagai co-producer dari beberapa lagunya.

 

Lomba Sihir

Setiap solois pasti membutuhkan band pendukung atau pengiring. Band pendukung tetap, atau dengan formasi yang tidak berubah-ubah akan memuluskan kerjasama diantara para individu yang terlibat dalam setiap project solois itu. Suatu ketika pada tahun 2019, Baskara menelepon Tama: “Tam, Hindia mau main di We The Fest (WTF), Lo sequencer ama main bass, ya!”  Tanpa berpikir panjang, Tama mengiyakan ajakan Baskara itu. Band pengiring sukses terbentuk dengan Natasha Udu (Vokal), Rayhan Noor (gitar/vokal), Wishnu Ikhsantama (bass, vokal), Tristan Juliano (kibor, vokal), dan Enrico Octaviano (drum) sebagai personelnya.

Dalam perjalanannya, band pengiring ini menjadi band ‘sempalan’ yang menelurkan singel-singel dan pada 26 Maret 2021 merilis album bertajuk Selamat Datang di Ujung Dunia. Bahkan Baskara Putra pun menjadi ‘vokalis’ resmi Lomba Sihir. Dinamakan Lomba Sihir karena saat masih menjadi band pengiring Hindia -belum berbentuk band yang ajeg- para personelnya ingin berlomba ‘menyihir’ para penonton saat  live. Belakangan konsepnya bermetamorfosis menjadi ‘menyihir yang mendengar dan yang menonton memasuki suatu keadaan via musik’. Yang dimaksud dengan ‘keadaan’ adalah lagu-lagu Lomba Sihir yang sarat tema yang familier dengan persoalan anak-anak muda usia 20-an.  Misalnya lagu “Apa Ada Asmara” yang menceritakan upaya pencarian cinta;   “Semua Orang Pernah Sakit Hati”  tentang tekanan untuk segera menikah; “Polusi Cahaya” tentang mengejar karier; “Nirrrlaba” tentang amarah terhadap pemerintah;  “Jalan Tikus” tentang berbohong demi mencari jalan aman; “Hati dan Paru-Paru” tentang pedoman untuk bertahan di Jakarta, dan masih banyak lagi. Melalui lagu-lagu ini mereka ingin para audience-nya terhubung dan mengalami ‘ekstase’ ketika menikmati penampilan dan mendengarkan karya mereka.

Enrico, Tama, Rayhan dan Tristan menjadi produser; kemudian mereka bertiga, minus Tristan, mengerjakan mixing sebelum dikirim ke Marcel James untuk proses mastering. Kover album Selamat Datang di Ujung Dunia digarap oleh Sun Eater Studio dan menampilkan para anggota Lomba Sihir bersama rekan-rekannya yang memerankan berbagai macam warga yang dapat ditemukan di Jakarta. “Album ini semacam foto keluarga besar kami ramai-ramai dengan latar belakang Jakarta untuk dikenang oleh kami berenam dan tim kami selama-lamanya,” kata Baskara dalam rilisan pers untuk peluncuran album ini.

Para personel Lomba Sihir adalah para talent yang bernaung di bawah label Sun Eater. Selain record label, Sun Eater adalah juga talent management dan creative/digital marketing platform yang fokus di ekosistem musik. Label ini didirikan Baskara untuk menaungi .Feast ketika sudah mulai naik daun; dan berlanjut sampai sekarang.

 

 

Lomba Sihir

 

Langsung yuk dengerin Selamat Datang di Ujung Dunia!

0

About the Author:

Content Writer SAE Indonesia
  Pos Berhubungan
  • No related posts found.

Add a Comment


× Whatsapp